▲ anugrahra.space ▲


Bermain di internet

alasan aku membuat situs web sendiri

Aku mengenal internet di tahun 1999. Aku ingat harga warnet waktu itu Rp. 4000 per jam. Di tahun itu pula aku pertama kali belajar membuat email, dengan Yahoo! sebagai provider-nya.

Saat itu juga, aku mulai menyukai internet. Aku sungguh terpesona karena apa yang aku tahu di dunia nyata ternyata ada semua informasinya di dunia maya. Aku senang berselancar acak. Mengunjungi situs-situs perusahaan, entertainment, forum, dan juga situs personal.

Nah, hal yang disebutkan terakhir itu yang ajaib. Situs Personal itu isinya benar-benar personal. Apapun bisa dimasukan di sana menurut selera si pemilik. Dari mulai gambar sampai GIF, yang jika dilihat di kacamata zaman sekarang akan terkesan norak. Gampangnya, kamu bisa lihat contohnya di situs promosi film Captain Marvel.

Teman-teman SMK ku pasti ingat, dulu tugas deploy website pertama kita itu di Geocities. Di tugasin Pak Gugum.

Ingat Friendster? The OG social media yang populer di negara kita dulu. Itu pun masih memberikan kebebasan pada pemilik akun untuk mendesain beberapa tampilannya sesuai selera.

Dengan sentuhan HTML dan CSS sederhana, si pemilik akun bisa menyunting halaman profilnya dengan apa yang dia mau.

Kebebasan itu yang aku rindukan di era internet zaman sekarang.

Hari ini, internet sudah sangat didominasi perusahaan raksasa. Siapa yang tidak memakai sosmed di hari ini? Aku yakin kalian pasti punya salah satu akun sosmed dari perusahaan populer. Entah itu dari Facebook, atau Twitter yang baru dibeli tukang roket bernama Elon Musk.

Penyedia layanan blog pun punya aturan rigid yang bakal bikin semua tampilannya mirip.

Emang masih ada orang yang baca blog?
Ada, gue!

Sebut itu Wordpress dan Blogger - ya walau dua nama itu sekarang udah mulai ditinggal juga kalau urusan blogging doang mah.

Terus kenapa?

Kebebasannya itu kawan. The motherfuckerTerms and Conditions”. Aturan yang memaksa untuk diikuti bagi para pengguna layanan. Perilakumu diatur.

… perilakumu diatur …

Opinimu terbatas jumlah karakter. Post-mu dipaksa berdasarkan timeline. Feed-mu dipaksa berbaris. Caramu mengapresiasi pun harus mengikuti aturan. Konten porno? Jangan harap lolos, masalah moral katanya. Fuck moral! Do you think the internet is an absolute reality?

Belum lagi kalau platformnya tutup. Ya lo ikutan tutup. Lha wong itu platform bukan punyamu. Gratisan lagi.

Bagiku, internet adalah berkah semesta untuk umat manusia. Ketika tanah maya ini tidak ada satu entitas pun yang memiliki, mengapa harus jadi ribet dengan aturan-aturan dunia nyata?

Maka, aku buat platform sendiri. Aku bisa bebas menyematkan apapun di sini. Catatan ini bisa kusimpan di mana pun. Tidak perlu yang terbaru harus paling atas kan? Tata letak elemen apapun bisa diatur sesuai dengan apa yang aku mau. Aku yang mengatur. I am the smartass Elon Musk.

Iya, host-ku masih Netlify. Setidaknya, aku yang memegang bahan bakunya.

Tenang kawan, aku pun masih bermain sosmed dan bergantung pada platform besar lainnya. Aku hanya ingin punya ruang sendiri yang bebas untuk diacak-acak sesuka hati. Sama seperti kamu membeli rumah karena ingin bebas melakukan apapun di dalamnya.

Atau meminjam istilah yang sudah populer, Digital Garden.

Terimakasih untuk Mas Hilman, yang udah ngenalin saya sama istilah ini.

Sebagaimana kebun sendiri, kita bebas mau menanam apa. Seperti aku yang menanam catatan, baris kode, dan kolase. Kamu bebas memetik apapun di kebunku. Tentu ada yang busuk. Buang saja, gak masalah, tapi tolong beri tahu aku. Begitu pula jika kamu menemukan yang manis.


Pelajari Digital Garden lebih dalam dengan membaca artikel berikut:

Mari berkebun di dunia digital
Building a Digital Garden
How the Blog Broke the Web

---


# media sosial internet
Baca catatan lainnya